BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam dunia pendidikan sekarang kurikulum yang digunakan adalah KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Kurikulum ini menuntut siswa untuk lebih aktif, inovatif dan pembelajaran tidak berpusat pada guru melainkan pada siswa (student center). Namun kenyataannya dalam pembelajaran IPA terpadu di SMP, sebagian besar pendidikan menggunakan sistem pembelajaran yang berpusat pada guru, dimana siswa hanya mendengarkan dan mencatat apa yang diterangkan oleh guru. Proses pembelajaran pendidikan seperti itu ternyata kurang kondusif. Selain itu juga guru kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi baik kepada pengajar maupun antar sesama teman sehingga ketika mengajar aspek kognitif, psikomotor dan afektif yang diharapkan dari tujuan pembelajaran kurang tersosialisasikan. Sistem pembelajaran tersebut untuk KTSP kurang cocok, dimana dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan siswa dituntut untuk lebih aktif dan terpenuhinya aspek kognitif, psikomotor dan afektif. Seorang siswa harus mampu memperoleh efektivitas belajar secara baik dan berhasil, namun hal tersebut harus diimbangi dengan sebuah strategi belajar dan mengajar yang memiliki kualitas yang tinggi pula. Output yang dihasilkan nantinya akan tercapai sesuai dengan tujuan KTSP. Oleh karena itu strategi pembelajaran inovatif sangat dibutuhkan dalam ketercapaian tujuan pembelajaran. Pembelajaran inovatif yang kami bahas dalam makalah ini yaitu pembalajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament).
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka dapat diambil perumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah penerapan tipe TGT dalam KBM?
2. Bagaimana tahapan-tahapan pelaksanaan TGT dalam KBM?
3. Bagaimanakah ciri-ciri TGT menurut Slavin 2008?
4. Bagaimana keunggulan dan kelemahan penerapan tipe TGT dalam pembelajran kooperatif?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusn masalah diatas maka tujuannya adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui penerapan tipe TGT dalam KBM.
2. Mengetahui tahapan-tahapan pelaksanaan TGT dalam KBM.
3. Mengetahui ciri-ciri TGT menurut Slavin 2008.
4. Mengetahui keunggulan dan kelemahan penerapan tipe TGT dalam pembelajran kooperatif
BAB II
PEMBAHASAN
Teams Games-Tournaments (TGT) pada mulanya dikembangkan oleh David Devries dan Keith Edwards. TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok – kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku kata atau ras yang berbeda (Slavin, 2008). Menurut Saco (2006), dalam TGT siswa memainkan permainan-permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing. Permainan dapat disusun guru dalam bentuk kuis berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi pelajaran. Kadang-kadang dapat juga diselingi dengan pertanyaan yang berkaitan dengan kelompok (identitas kelompok mereka).
1. Tahapan-tahapan TGT (Teams games Tournament)
a. Mengajar (teach)
Tipe pelajaran pada TGT selalu dimulai dengan presentasi kelas. Presentasi kelas meliputi pendahuluan, inti yang dapat berisi komponen presentasi bahan dan latihan terbimbing dari keseluruhan pelajaran, sedang kegiatan tim dan kuis mencakup latihan bebas dan asesmen. (diadaptasi dari Good, Grouws, & Ebmeir, 1983)
b. Belajar Kelompok (team study)
Siswa bekerja dalam kelompok yang terdiri atas 5 sampai 6 orang dengan kemampuan akademik, jenis kelamin, dan ras / suku yang berbeda. Dengan adanya heterogenitas anggota kelompok, diharapkan dapat memotifasi siswa untuk saling membantu antar siswa yang berkemampuan lebih dengan siswa yang berkemampuan kurang dalam menguasai materi pelajaran. Hal ini akan menyebabkan tumbuhnya rasa kesadaran pada diri siswa bahwa belajar secara kooperatif sangat menyenangkan.
Peran-peran Tim
• Siswa memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa teman sesame timnya telah belajar bahan ajar tersebut.
• Tudak seorang siswa oun selesai belajar sebelum seluruh teman sesama timnya menuntaskan bahan ajar tersebut.
• Bertanya dulu kapada semua teman sesama tim sebelum bertanya kepada guru.
• Sesame tim boleh saling berbicara asal dengan suara pelan.
Keterangan:
Setelah guru menginformasikan materi, dan tujuan pembelajaran, kelompok berdiskusi dengen menggunakan LKS. Dalam kelompok terjadi diskusi untuk memecahkan masalah bersama, saling memberikan jawaban dan mengoreksi jika ada anggota. Dalam kerja kelompok guru memberikan LKS kepada setiap kelompok. Tugas yang diberikan dikerjakan bersama – sama dengan anggota kelompoknya. Apabila ada dari anggota kelompok yang tidak mengerti dengan tugas yang diberikan, maka anggota kelompok yang lain bertanggungjawab untuk memberikan jawaban atau menjelaskannya, sebelum mengajukan pertanyaan tersebut kepada guru.
c. Permainan (game tournament)
Permainan diikuti oleh anggota kelompok dari masing – masing kelompok yang berbeda. Tujuan dari permainan ini adalah untuk mengetahui apakah semua anggota kelompok telah menguasai materi, dimana pertanyaan – pertanyaan yang diberikan berhubungan dengan materi yang telah didiskusikan dalam kegiatan kelompok.
Keterangan:
Selanjutnya untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai pelajaran, maka seluruh siswa akan diberikan permainan akademik. Dalam permainan akademik siswa akan dibagi dalam meja – meja turnamen, dimana setiap meja turnamen terdiri dari 5 sampai 6 orang yang merupakan wakil dari kelompoknya masing – masing. Dalam setiap meja permainan diusahakan agar tidak ada peserta yang berasal dari kelompok yang sama. Siswa dikelompokkan dalam satu meja turnamen secara homogen dari segi kemampuan akademik, artinya dalam satu meja turnamen kemampuan setiap peserta diusahakan agar setara. Hal ini dapat ditentukan dengan melihat nilai yang mereka peroleh pada saat pre-test. Skor yang diperoleh setiap peserta dalam permainan akademik dicatat pada lembar pencatat skor.
d. Penghargaan kelompok (team recognition)
Pemberian penghargaan (rewards) berdasarkan pada rata poin yang diperoleh oleh kelompok dari permainan. Lembar penghargaan dicetak dalam kertas HVS.
Keterangan:
Segera mungkin setelah usai turnamen tersebut, hitung skor tim dan siapkan sertifikat tim atau tuliskan hasil turnamen untuk diumumkan pada papan bulletin. Untuk melakukan ini, pertama kali periksalah poin turnamen pada lembar skor permainan. Langkah berikutnya pindahkan tiap poin turnamen siswa ke lembar rangkuman tim untuk timnya, jumlahkan seluruh skor anggota tim, dan bagilah dengan banyaknya anggota tim yang ikut bertanding.
Contoh:
Pemberian penghargaan didasarkan atas rata – rata poin yang didapat oleh kelompok tersebut. Dimana penentuan poin yang diperoleh oleh masing – masing anggota kelompok didasarkan pada jumlah kartu yang diperoleh. seperti ditunjukkan pada tabel berikut.
Tabel 2.1 Perhitungan Poin Permainan Untuk Empat Pemain
Pemain dengan Poin Bila Jumlah Kartu Yang Diperoleh
Top Scorer 40
High Middle Scorer 30
Low Middle Scorer 20
Low Scorer 10
(Sumber : Slavin, 1995:90)
Dengan keterangan sebagai berikut:
Top Scorer (skor tertinggi), High Middle scorer ( skor tinggi ), Low Middle
Scorer ( skor sedang ), Low Scorer ( skor terendah).
2. Ciri-ciri TGT (Teams Games Tournament)
Model pembelajaran kooperatif tipe TGT menurut Slavin: 2008 memiliki ciri – ciri sebagai berikut:
a. Siswa Bekerja Dalam Kelompok – Kelompok Kecil
b. Games Tournament
Sedangkan Pelaksanaan games dalam bentuk turnamen dilakukan dengan prosedur, sebagai berikut:
1. Guru menentukan nomor urut siswa dan menempatkan siswa pada meja turnamen (3 orang , kemampuan setara). Setiap meja terdapat 1 lembar permainan, 1 lbr jawaban, 1 kotak kartu nomor, 1 lbr skor permainan.
2. Siswa mencabut kartu untuk menentukan pembaca I (nomor tertinggi) dan yang lain menjadi penantang I dan II.
3. Pembaca I menggocok kartu dan mengambil kartu yang teratas.
4. Pembaca I membaca soal sesuai nomor pada kartu dan mencoba menjawabnya. Jika jawaban salah, tidak ada sanksi dan kartu dikembalikan. Jika benar kartu disimpan sebagai bukti skor.
5. Jika penantang I dan II memiliki jawaban berbeda, mereka dapat mengajukan jawaban secara bergantian.
6. Jika jawaban penantang salah, dia dikenakan denda mengembalikan kartu jawaban yang benar (jika ada).
7. Selanjutnya siswa berganti posisi (sesuai urutan) dengan prosedur yang sama.
8. Setelah selesai, siswa menghitung kartu dan skor mereka dan diakumulasi dengan semua tim.
9. Penghargaan sertifikat, Tim Super untuk kriteria atas, Tim Sangat Baik (kriteria tengah), Tim Baik (kriteria bawah)
10. Untuk melanjutkan turnamen, guru dapat melakukan pergeseran tempat siswa berdasarkan prestasi pada meja turnamen.
c. Penghargaan Kelompok
Setelah turnamen tersebut, hitung skor tim dansiapkan sertifikat tim atau menulis hasil turnamen itu untuk diumumkan pada papan buletin.
3. Keunggulan dan Kelemahan TGT
Menurut Slavin (2008), perspektif motivasional pada pembelajaran kooperatif terutama memfokuskan pada penghargaan atau struktur tujuan di mana para siswa bekerja. Deutsch (1949) dalam Slavin (2008) mengidentifikasikan tiga struktur tujuan dalam pembelajaran kooperatif, yaitu:
1. kooperatif, di mana usaha berorientasi tujuan dari tiap individu memberi konstribusi pada pencapaian tujuan anggota yang lain.
2. kompetitif, di mana usaha berorientasi tujuan dari tiap individu menghalangi pencapaian tujuan anggota lainnya.
3. individualistik, di mana usaha berorientasi tujuan dari tiap individu tidak memiliki konsenkuensi apapun bagi pencapaian tujuan anggota lainnya.
Dari perspektif motivasional, struktur tujuan kooperatif menciptakan sebuah situasi di mana satu-satunya cara, anggota kelompok bisa meraih tujuan pribadi mereka adalah jika kelompok mereka sukses. Oleh karena itu, mereka harus membantu teman satu timnya untuk melakukan apapun agar kelompok berhasil dan mendorong anggota satu timnya untuk melakukan usaha maksimal.
Sedangkan dari perspektif teori kognitif, Slavin (2008) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif menekankan pada pengaruh dari kerja sama terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Asumsi dasar dari teori pembangunan kognitif adalah bahwa interaksi di antara para siswa berkaitan dengan tugas-tugas yang sesuai meingkatkan penguasaan mereka terhadap konsep kritik. Pengelompokan siswa yang heterogen mendorong interaksi yang kritis dan saling mendukung bagi pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan atau kognitif.
Penelitian psikologi kognitif menemukan bahwa jika informasi ingin dipertahankan di dalam memori dan berhubungan dengan informasi yang sudah ada di dalam memori, orang yang belajar harus terlibat dalam semacam pengaturan kembali kognitif, atau elaborasi dari materi. Salah satu cara elaborasi (perpaduan) yang paling efektif adalah menjelaskan materinya kepada orang lain.
Namun, tidak ada satupun model pembelajaran yang cocok untuk semua materi, situasi dan anak. Setiap model pembelajaran memiliki karakteristik yang menjadi penekanan dalam proses implementasinya dan sangat mendukung ketercapaian tujuan pembelajaran. Secara psikologis, lingkungan belajar yang diciptakan guru dapat direspon beragam oleh siswa sesuai dengan modalitas mereka. Dalam hal ini, pembelajaran kooperatif dengan teknik TGT, memiliki keunggulan dan kelemahan dalam implementasinya terutama dalam hal pencapaian hasil belajar dan efek psikologis bagi siswa.
Slavin (2008), melaporkan beberapa laporan hasil riset tentang pengaruh pembelajaran kooperatif terhadap pencapaian belajar siswa yang secara inplisit mengemukakan keunggulan dan kelemahan pembelajaran TGT, sebagai berikut:
1 Para siswa di dalam kelas-kelas yang menggunakan TGT memperoleh teman yang secara signifikan lebih banyak dari kelompok rasial mereka dari pada siswa yang ada dalam kelas tradisional.
2 Meningkatkan perasaan/persepsi siswa bahwa hasil yang mereka peroleh tergantung dari kinerja dan bukannya pada keberuntungan.
3 TGT meningkatkan harga diri sosial pada siswa tetapi tidak untuk rasa harga diri akademik mereka.
4 TGT meningkatkan kekooperatifan terhadap yang lain (kerja sama verbal dan nonberbal, kompetisi yang lebih sedikit)
5 Keterlibatan siswa lebih tinggi dalam belajar bersama, tetapi menggunakan waktu yang lebih banyak.
6 TGT meningkatkan kehadiran siswa di sekolah pada remaja-remaja dengan gangguan emosional, lebih sedikit yang menerima skors atau perlakuan lain.
Sebuah catatan yang harus diperhatikan oleh guru dalam pembelajaran TGT adalah bahwa nilai kelompok tidaklah mencerminkan nilai individual siswa. Dengan demikian, guru harus merancang alat penilaian khusus untuk mengevaluasi tingkat pencapaian belajar siswa secara individual.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
1. Penerapan TGT dalam KBM (kegiatan belajar mengajar) sangat mendukung dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Karena dalam TGT siswa dapat lebih aktif, lebih menghargai pendapat orang lain, kompetitif dan saling bekerjasama dengan temannya, sehinga dapat memupuk rasa sosial.
2. Ciri-ciri TGT dalam KBM menurut slavin, 2008 yaitu siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil, games tournament dan pemberian penghargaan.
3. Tahapan-tahapan TGT dalam pelaksanaan KBM meliputi guru menempatkan siswa dalam kelompok – kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa. Guru menyajikan materi (mengajar), dan siswa bekerja dalam kelompok mereka masing – masing. Dalam kerja kelompok guru memberikan LKS kepada setiap kelompok. Tugas yang diberikan dikerjakan bersama – sama dengan anggota kelompoknya (belajar kelompok). Kemudian untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai pelajaran, maka seluruh siswa akan diberikan permainan akademik (permainan). Selanjutnya skor yang diperoleh setiap peserta dalam permainan akademik dicatat pada lembar pencatat skor. Skor kelompok ini digunakan untuk memberikan penghargaan tim berupa sertifikat dengan mencantumkan predikat tertentu (pemberiaan penghargaan).
4. Kelemahan dan Keunggulan TGT dalam KBM meliputi kelas yang menggunakan TGT memperoleh teman yang secara signifikan lebih banyak dari kelompok rasial mereka dari pada siswa yang ada dalam kelas tradisional, meningkatkan perasaan/persepsi siswa bahwa hasil yang mereka peroleh tergantung dari kinerja dan bukannya pada keberuntungan, meningkatkan harga diri sosial pada siswa tetapi tidak untuk rasa harga diri akademik mereka, meningkatkan kekooperatifan terhadap yang lain (kerja sama verbal dan nonberbal, kompetisi yang lebih sedikit, keterlibatan siswa lebih tinggi dalam belajar bersama, tetapi menggunakan waktu yang lebih banyak dan meningkatkan kehadiran siswa di sekolah pada remaja-remaja dengan gangguan emosional, lebih sedikit yang menerima skors atau perlakuan lain.
B. Saran
Pembelajaran kooperatif dengan teknik TGT, memiliki keunggulan dan kelemahan dalam implementasinya terutama dalam hal pencapaian hasil belajar dan efek psikologis bagi siswa.
Dalam pembelajaran TGT bahwa nilai kelompok tidaklah mencerminkan nilai individual siswa. Dengan demikian, guru harus merancang alat penilaian khusus untuk mengevaluasi tingkat pencapaian belajar siswa secara individual.
Pages
Rabu, 20 April 2011
Model Pembelajaran Kooperatif tipe TGT (Team Game Tournament)
Diposting oleh
Dhesta Nurdana Puspita
di
02.44
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Times is Money
Blog Archive
Pengikut
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

1 komentar:
BAGUS ARTIKKELNYA,,,,,,TAPI SEANDAINYA PARA MURID ATAU ANAK TERSEBUT MENDAPAT PENDIDIKAN AGAMA YANG LEBIH DARI ORANG TUA MUNGKIN AKAN LEBIH BAIK LAGI, SEMISAL DALAM AGAMA ISLAM SUDAH DI TERANGKAN DALAM SURAT LUQMAN MENGENAI BAGAIMANA CARA MENDIDIK ANAK BAIK DAN BENAR, DI DALAM AGAMA KRISTEN, HINDU MAUPUN AGAMA LAINNYA PASTI SEMUA MENGAJARKAN KEBAIKAN UNTUK MENDIDIK ANAK - ANAKNYA
Posting Komentar